Agama dan Iman

Apakah agama sama dengan iman? Ini adalah sebuah pertanyaan yang sudah lama ada di benak saya untuk saya renungkan. Lewat tulisan ini saya hendak membagikan pengertian agama dan iman dalam konsep berpikir saya, sebuah konsep yang mungkin bertentangan dengan atau mungkin disetujui oleh orang lain. Saya tidak hendak berbicara mengenai pengertian secara literasi ataupun mengutip pemikiran orang lain. Pendapat kita mungkin berbeda dan itu tidak apa-apa. Hidup ini selalu diisi dengan perbedaan latar belakang, perbedaan isi kepala, dan kesetujuan untuk tidak setuju terhadap satu sama lain.

Bagi saya pribadi, agama tidaklah sama dengan iman. Sejak kecil saya tahu saya memeluk agama apa, yang artinya agama yang dilekatkan pada saya sejak saya kecil. Dulu saya berpikir memang begitulah sistem di negara Indonesia, bahkan sebelum seorang bayi bisa berbicara kepada dirinya sudah dilekatkan sebuah label, sebuah pengelompokan dimana dia menjadi anggotanya. Sejak taman kanak-kanak sampai SMP saya bersekolah di sekolah Kristen. Tentu saja ini sinkron dengan pendidikan di rumah dan kegiatan beribadah yang diterapkan di keluarga saya yang beragama Kristen. Di rumah, di sekolah, dan di gereja saya dikelilingi oleh pengetahuan agama Kristen. Saya bilang ini pengetahuan, karena di masa itu membaca Alkitab diperlakukan sama dengan membaca textbook pelajaran lain. Saya akan disuruh menghafalkan sebuah bagian, dites apakah hafal, diberi nilai dan peringkat untuk menentukan kelulusan dari mata pelajaran Agama.

Waktu SMP saya mulai belajar pengakuan Iman Rasuli yang diucapkan setiap kali menjelang akhir kebaktian hari Minggu, dimana pada bagian terakhirnya ada kalimat-kalimat berikut:

Aku percaya kepada Roh Kudus

Gereja yang kudus dan am

Persekutuan orang kudus

Pengampunan dosa

Kebangkitan tubuh

Dan hidup yang kekal

Dan setiap kali saya membaca bagian tentang “kebangkitan tubuh dan hidup yang kekal”, saya takut kalau saya tidak punya bagian di situ.

Tahun-tahun di SMP adalah tahun penuh pemberontakan dan pencarian jati diri. Di tengah kepungan pengetahuan tentang agama Kristen, saya mulai mencari iman apa yang hendak saya pilih dan ikuti. Siapa yang saya pikir memiliki hidup saya? Siapa yang menempatkan saya di jaman ini dengan orang-orang ini? Apa yang harus saya lakukan selama saya diberi waktu untuk hidup? Ke manakah saya akan pergi setelah saya mati? Peristiwa kelahiran bagi saya sama misteriusnya dengan peristiwa kematian. Saya tidak punya daya sama sekali untuk memutuskan kapan, di mana, dan di sekitar siapa saya lahir, demikian pula pada kematian yang natural saya kurang-lebih tidak bisa memutuskan kapan, di mana, dan di sekitar siapa saya mati. Waktu yang dijalani selama masa hidup juga sama misteriusnya, dengan begitu banyaknya kejadian yang di luar kehendak dan kendali diri saya. Berbekal pertanyaan-pertanyaan tersebut saya memulai pencarian akan iman saya.

Semua pertanyaan yang ada di benak remaja saya sebenarnya bisa dirangkum dalam dua pertanyaan saja:

  1. dari mana saya berasal, dan
  2. ke manakah saya akan pergi setelah saya mati.

Sejak saat saya mengetahui iman yang saya yakini, membaca Alkitab tidak lagi menjadi sebuah kewajiban demi mendapat nilai bagus. Anugerah keselamatan itu sudah bekerja sejak sebelum saya memutuskan siapa yang saya percaya. Menghafal kitab-kitab selama kurang lebih sembilan tahun ternyata sudah menggemburkan tanah hati nurani untuk menaburkan biji Firman Tuhan yang kekal adanya (karena setiap Firman yang ditabur, tidak akan kembali dengan sia-sia).

Setelah saya memilih iman saya, saya dibenturkan kepada pertanyaan lain, saya masuk kelompok/doktrin yang mana dalam agama? Di situlah saya mulai melihat perbedaan mendasar dari agama dan iman.

Iman bicara tentang hubungan pribadi antara Pencipta dan saya sebagai ciptaan-Nya, dengan sebuah kedekatan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata dan mustahil dialami oleh tiap orang dengan cara yang sama. Agama bicara tentang kelompok manusia, ritual dan rutinitas yang seragam/diseragamkan, dan cara pandang yang berbeda terhadap kelompok lain. Iman berfokus pada Pencipta saya dan apa yang Dia mau dari saya sebagai ciptaan. Saya melihat agama seperti pemisah, sebuah tembok yang mengatakan “ini saya” dan “itu bukan saya”.

Orang tua saya adalah anggota gereja dengan konsep Lutheran (mengacu pada reformasi oleh Martin Luther). Selama saya memiliki iman Kristen, saya sudah masuk, mempelajari dan mengambil kesimpulan dari gereja-gereja dengan doktrin lain. Kepala ini dibuat pusing bukan kepalang karena interpretasi Alkitab dan cara beribadah yang begitu beragam. Tidak bisa dipungkiri bahwa Alkitab dan berita keselamatan di dalamnya adalah satu-satunya pedoman tertulis yang ditinggalkan oleh iman kekristenan yang sudah ada selama lebih dari 2000 tahun. Pengertian manusia bisa berubah, pemimpin agama akan berganti, dan sungguh tidak bijak menggantungkan iman seseorang pada sosok manusia yang pada akhirnya akan mati. Pada akhirnya saya memilih gereja dengan doktrin reformasi (John Calvin) karena prinsip dasarnya yang kembali ke Alkitab. Alkitab dipelajari tidak hanya berdasarkan teks terjemahan, tapi juga menggali sintaks teks dari bahasa asli (Ibrani untuk Perjanjian Lama, dan Yunani untuk Perjanjian Baru), dengan melihat konteks penulisan pada jaman itu. Di doktrin reformasi saya melihat Alkitab sebagai cermin yang memberi tahu alasan saya ada di sini, karakter apa yang harus saya miliki sebagai ciptaan, dan ke mana saya akan pergi setelah saya mati. Kalau saya hanya berpatok pada agama, kemungkinan besar saya akan punya sikap ngotot tentang kelompok saya dan kebenaran yang kelompok saya anut. Bagi saya pribadi, kebenaran ada di dalam tulisan-tulisan di dalam Alkitab, yang ditulis karena pengilhaman Roh Kudus untuk menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran. Itulah kebenaran yang menjadi kompas hidup saya.

Setelah saya mengambil garis tegas antara agama dan iman yang saya percayai, sungguh saya tidak ambil pusing dengan kelompok-kelompok agama yang ada, yang berjudul sama ataupun berbeda dengan agama yang tertulis di setiap kartu identitas saya. Saya percaya keselamatan adalah anugerah, tidak ada satupun perbuatan baik yang saya lakukan yang bisa saya pakai sebagai sogokan untuk mencapainya. Keselamatan dimulai dengan suatu kesadaran kalau manusia berdosa dan sudah kehilangan hubungan dengan Tuhan. Bahkan saat manusia diam dan tidak melakukan apa-apa, dia bisa berdosa dengan pikirannya. Kesadaran kalau manusia tidak bisa membuat dosanya hilang dengan bermiliar-milar perbuatan baiklah yang membuat manusia sadar kalau dia perlu keselamatan. Buat saya pribadi, keselamatan saya adalah anugerah dari Tuhan Yesus Kristus. Sejak saya SMA sampai sekarang saya sering ditanya: mengapa Tuhan orang Kristen ada tiga, mengapa Tuhan orang Kristen beranak. Di saat seperti itu saya yang tahu kalau keselamatan dan iman saya adalah semata-mata pemberian, bisa berkata: berapapun kepribadian Tuhan yang saya yakini memiliki hidup saya, saya akan tetap mempercayainya. Iman dan keselamatan sering kali tidak bisa dijelaskan oleh nalar dan logika, tapi nalar dan logika harus saya pakai selama bersikap dalam hidup.

Saya mengimani dua hukum yang terutama: 1) kasihilah Tuhan Allah-mu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu, dan 2) kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Kasihilah pencipta-Mu seperti ciptaan yang selalu bersyukur telah diberi kesempatan untuk hidup dan berkarya, dan perlakukanlah orang lain seperti dirimu ingin diperlakukan. Kedua hukum ini yang menjadi dasar iman saya, bukan kelompok manusia dengan segala distorsinya karena kekurangan belajar dan pengetahuan.

Selamat beribadah pada hari Minggu ini untuk saudara-saudara semua yang beriman kepada Yesus Kristus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s