Ah Sudahlah

Sosmed dalam enam bulan terakhir udah kayak medan perang dunia gara-gara pilkada. Ga di FB, IG, dan Twitter semua orang siap dengan amunisinya masing-masing. Cara nembaknya ga melulu frontal pake pistol dan tangan kosong doang lho, cara halus nyindir-nyinyir-nyenggol-nyelekit dikit kayak orang main ketapel juga dipake. Ayolah, manusia-manusia, kapankah semua ini akan berakhir? Naga-naganya ga akan pernah berakhir selama pilkada tetap ada di negara yang rakyatnya belum dewasa ini.

Aura panas sosmed bikin saya jadi melek ciri khas manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk individu:

  1. Beraninya kalo rame-rame

Kalau berpendapat sendirian kayaknya ga akan didengar banyak orang (kalau memang bertujuan buat dapet banyak pendengar di sosmed), tapi kalau pendapatnya di-like, di-comment, di-share ratusan sampai ribuan orang? Tiba-tiba pendapat itu jadi trend, jadi fenomena, jadi patokan, dan bisa-bisa jadi kebenaran. Namanya juga pendapat, pasti ada relativitas terhadap pendapat lain. Kalau pendapatnya manut sama pendapat kebanyakan, tambah ngumpul deh massa pendukungnya. Kalau pendapatnya bertentangan sama pendapat kebanyakan, yang ngumpul para pembencinya. Di era sosmed ini tiba-tiba semua orang ngerasa perlu ngomong dan minta didengar, everybody thinks the world owns them something (susah nerjemahin frase ini – red). Sosmed jadi alat propaganda, alat pembentuk pendapat dan kebenaran, dan orang-orang yang kurang bijak mencerna informasi dengan lugunya membantu membentuk kebenaran yang belum tentu benar. Saya suka tagline dari salah satu media online besar di Indonesia: Saring sebelum Sharing. Hari gini jempol kita harimau kita. Salah berpendapat, salah menyebarkan informasi yang salah, bisa berabe semua. Jadi saringlah dulu sebelum kita mengiyakan atau membagikannya. Kadang kita merasa lebih aman kalau ada pendapat lain yang menjustifikasi/mendukung kita, tapi menurut saya kita harus berani berpendapat saat sendiri ataupun rame-rame. Dan karena pendapat sekarang ini kebanyakan dituangkan dalam bentuk tulisan, pikirkanlah baik-baik sebelum menulis. Menulis mengabadikan pikiran kita dalam jangka panjang; dia adalah cermin pribadi kita dan warisan kita untuk orang-orang dalam hidup kita sekarang dan yang akan datang. Dan …, jangan generalisasi, apalagi bawa-bawa massa di belakangmu untuk menguatkan pendapatmu yang pukul rata itu. Please dong ah, di mana-mana ada orang jahat-orang baik, orang judes-orang ramah, orang tulus-orang licik. Satu orang nyolot, masak kamu katain semua suku bangsa dia nyolot? Emangnya dia bisa milih dilahirkan di keluarga yang gimana dan dari suku bangsa apa? Terus gimana dengan orang yang orang tuanya berasal dari dua (atau bahkan lebih) suku bangsa, mau ngatain sifat setiap suku bangsa yang ada di darahnya? Contoh: dasar orang XX-YY emang bla-bla-bla. Bah, mau ngejek, mau menghakimi aja ribet banget. Sama seperti kematian, kelahiran juga kadang bukan suatu pilihan. Kalau soal agama? Agama itu pilihan tiap individu. Tapi kembali lagi ke kenyataan bahwa pada dasarnya manusia terbagi ke dalam dua kutub, jadi ga relevan mengeneralisir satu kelompok agama karena kelakuan salah seorang anggotanya.

 

  1. Ga mau move on

Kenapa manusia ga mau move on (bukan ga bisa lho ya, tapi ga mau aja)? Karena manusia sulit mengucapkan perpisahan.Lihat aja deh fenomena mulai dari kita kecil. Kalau kita naik kelas dan ga sekelas lagi sama BFF kita, pasti deh kita sedih, mewek, pengennya sekelas lagi, masih terpaku aja sama masa lalu yang menyenangkan saat kita dulu masih sekelas. Apalagi kalau ada peristiwa pindah ke sekolah baru, mulai dari usia SD tuh rasanya kiamat kalau tiba-tiba dicabut dari pertemanan yang sudah berakar di sekolah lama, dan dilempar ke lautan pertemanan baru di sekolah baru. Peristiwa meninggalnya orang yang kita kenal/kasihi memberikan pukulan paling berat, karena dengan kematian tidak ada lagi kesempatan untuk bertemu dan berhubungan kembali. Hmm, peristiwa apa lagi ya yang menunjukkan sifat manusia yang sulit berpisah? Oh iya,  saat manusia putus cinta. Ini jenis kiamat kedua. Waktu masih pacaran sama si mantan, rasanya dunia indah, ga ada masalah. Pas mulai cek-cok dan memutuskan berpisah, mulai deh fase mengenang-mengenang dan membanding-bandingkan yang lama dengan yang baru. Dulu dengan si dia rasanya selalu lebih mudah. Lebih mudah atau kitanya aja yang malas untuk memulai baru? Memang sulit melupakan mantan, entah itu mantan pasangan atau mantan jabatan, sehingga kegalauan dan kegelisahannya bisa berlarut-larut. Jadi kenapa manusia sulit beranjak dari hasil pilkada yang udah notabene jadi fakta tak terbantahkan? Karena manusia sulit berpisah dengan rasa nyaman yang dia dapat waktu mendukung salah satu paslon. Kenapa bisa nyaman? Karena ada kesamaan: 1) asal-usul, 2) visi-misi, 3) program, 4) dan daftar ini tak berkesudahan. Jadi kalau si paslon tidak terpilih dan tujuan bersamanya tidak jadi tercapai, berarti kita harus berpisah juga dong dengan idealisme yang kita pikir bisa diwujudkan oleh si paslon. Ini yang membuat banyak orang tidak siap, apalagi kalo sentimen itu dibagi dengan banyak orang lain di berbagai kesempatan. Wah tambah sulit deh untuk mengucapkan cukup kepada satu fase singkat dalam hidup yang panjang ini, dan melanjutkan ke fase berikutnya tanpa berpaling lagi. Buat apa terus menengok ke belakang dan mengenang? Masa itu sudah lewat, waktu tidak bisa diputar kembali, sekarang waktunya melanjutkan hidup. Fakta dan kenyataan di depan ga bisa diubah, tapi sikap kita bisa diubah. Ayo angkat tangan sama-sama dan katakan bye bye bye, kita pisah di sini ya, kepada hal-hal yang kita pikir seharusnya terwujud tapi ternyata tidak bisa diwujudkan.

Yah, niat cuma nulis beberapa ratus kata aja, tiba-tiba jadi banyak. Ah sudahlah, yang penting saya lega karena saya sudah menuangkan uneg-uneg saya. Ayo bikin sosmed menyenangkan lagi; ayo posting foto-foto makan pagi-siang-malammu, foto anak dan bayimu, foto liburanmu, sharing resep, atau bahkan gosip artis (terutama artis Korea, hiahahaha #bias).

Let’s stop this madness, friends. I wrote this because I care about our future, not our past. Let’s nurture our sanity.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s