Almamatermu Adalah Kamu

*) Gambar di atas diambil dari sini: https://www.theodysseyonline.com.

Kenapa saya pilih gambar ini? Karena Ryan Gosling tetap kelihatan cakep walau lagi pasang tampang kesal, dan gambar ini bikin saya pengen tanya: what do you REALLY want? ke orang yang jadi inspirasi untuk posting ini. 

Sambil ngantri beli tiket buat nonton FF8 (yang berujung dengan ga kebagian tiket dan balik pulang), saya buka link di FB temannya teman yang isinya tulisan seorang pendukung paslon di pilkada Gubernur DKI, tentang siapa yang mesti dipilih untuk meredakan konflik antar agama. Saya baca dengan serius, kening berkerut banyak, sedikit trenyuh di bagian awal waktu dia membahas sedikit latar belakang keluarganya yang punya issue dengan persatuan. Di bagian tengah saya lihat info kalau saya satu almamater dengan dia. Sampai di bagian akhir, saya jadi setuju dengan orang-orang yang menyayangkan sikapnya yang tidak punya sikap.

Baiklah, mari kita ngomongin topik yang sedikit menyerempet politik, topik yang sedang saya hindari karena memutus persahabatan dan membuat banyak orang jengah.

Masyarakat akan selalu melakukan generalisasi dan mempunyai stigma terhadap kelompok-kelompok yang ada di dalamnya, entah itu berdasarkan suku bangsa, agama, tempat tinggal, sekolah, pekerjaan, dan lain-lain. Apakah hal ini bisa dibenarkan? Tidak, apalagi di era keterbukaan seperti sekarang yang lebih mementingkan hasil kerja daripada latar belakang seseorang. Apakah hal ini wajar? Ya, wajar dan manusiawi, karena itulah manusia. Otaknya dibagi dua, kanan dan kiri. Bilik jantungnya juga demikian, bilik kanan dan kiri. Mustahil kalau seseorang tidak mengelompokkan hal-hal/orang-orang dalam kehidupannya menurut persepsi pribadinya.

Stigma sewajarnya ada dan sewajarnya juga dihilangkan karena itu tidak memberi nilai tambah bagi kehidupan yang lebih baik di bumi ini. Mudah sekali buat orang lain untuk menghakimi kita berdasarkan latar belakang kita, tanpa mempedulikan sisi lain yang baik dari diri kita. Contohnya:

  1. (+) Si itu ga mau minjemin aku duit. (-) Dia kan memang pelit, dasar orang [isi sendiri].
  2.  (+) Eh tau ga kalau si itu masuk penjara kemarin? (-) Wajar sih, habis tinggalnya di [isi sendiri], pasti bergaulnya sama preman.
  3. (+) Si itu masuk kuliah di jalan itu lho. (-) Udah sepantesnya, kan SMA-nya di [isi sendiri]. Dari SMA itu udah kayak naik kelas ke kampus itu. Malu sama teman-temannya kalau dia sendiri yang ga keterima.
  4. dan seterusnya. Daftar stigma sungguh tidak akan berkesudahan, Saudara-saudara.

Mudahkah menghilangkan stigma? Sama sekali tidak. Kita butuh tekad dan usaha keras untuk menghilangkan label yang kita sengaja/tidak sengaja tempelkan ke orang lain. Percuma mengharapkan orang lain menghilangkan stigma yang dia miliki terhadap orang di sekitarnya; usaha itu lebih baik dimulai dari diri sendiri dulu. Berhati-hatilah dalam membawa diri karena banyak label melekat dalam diri kita: suku ini, agama itu, lulusan sekolah X, rumahnya di kawasan Y, dan sebagainya, yang bisa dipakai untuk generalisasi yang tidak perlu.

Yang saya ingin soroti kali ini adalah soal menjaga nama baik almamater sekolah. Sejak SMP sampai kuliah (dan pertukaran pelajar) saya menempuh pendidikan di sekolah-sekolah dengan reputasi yang bagus. Terkenal karena kualitas pendidikannya, terkenal karena kualitas alumninya, terkenal karena sumbangsihnya buat masyarakat. Walaupun terkenal, alumni dari sekolah-sekolah itu juga mendapat label tertentu. Alumni dari Kampus X katanya terkenal sombong dan ga bisa diajak kerja sama. Alumni dari SMA Y katanya selalu merasa paling pintar. Stigma dan pelabelan kebanyakan disebar melalui mailing-list, sedikit sekali dengan disertai contoh konkret siapa yang melakukan dan peristiwa apa yang terjadi. Yang ada adalah generalisasi yang cenderung menakut-nakuti, apalagi kalau posting-nya ditulis sama Head Hunter. Wih, adik-adik kelas yang masih santai di kampus jadi ketakutan sendiri. Jangan-jangan orang melihat saya sok tahu, padahal saya memang tahu lebih; jangan-jangan orang melihat saya terlalu memaksa, padahal saya ingin tujuan pekerjaan ini tercapai; dan sederet ketakutan lain. Ketakutan-ketakutan ini tidak logis dan membuat orang terlalu mengkhawatirkan apa kata orang lain daripada menggunakan kekuatannya untuk bekerja lebih baik.

Stigma muncul secepat kilat kalau alumni dari sebuah almamater dengan reputasi bagus melakukan sesuatu yang tidak sebagus reputasi almamaternya, sesuatu yang tidak sesuai dengan yang orang harapkan. Contoh: alumni yang ditangkap karena korupsi, alumni yang dipenjara karena menyuap pejabat, alumni yang jadi sosok penyebar keresahan di media sosial. Wajar kalau orang-orang yang merasa tidak nyaman dengan sosok si alumni jadi bertanya, lulusan mana sih si itu? Terus kalau udah tahu lulusan dari sekolah mana, komentarnya merembet deh ke kualitas alumni. Kalau udah ada komentar miring gitu, yang kena bukan cuma orang terkait, tapi bisa semua alumni. Catet ya, SEMUA. Saya pernah mengalami ditanya: Pak X ditangkap karena menerima gratifikasi, dulu satu jurusan ga? Si penanya ga tahu kalau jumlah jurusan di kampus almamater saya ada banyak, dan warganya lebih banyak lagi. Yang dia tahu nama kampus saya dan si Pak X sama, dan sayang banget ternyata ada alumni kampus sebaik kampus kami yang masuk penjara.

Jadi kalau ada alumni yang jadi figur publik dan plin-plan sekali, hari ini ngomong A sorenya (bukan besoknya lho) ngomong B, detik ini mencaci-maki si X detik berikutnya mendukung si X, doyan banget memutar-balik fakta dan kenyataan, dan orang-orang tahu dia lulusan dari mana, kebayang kan apa kata orang soal almamaternya? Ga nyangka ternyata lulusan dari situ kualitasnya begitu. Padahal tidak semua figur publik yang pernah kuliah di kampus itu punya sikap plin-plan, tapi itulah kekuatan stigma dan generalisasi. Waktu stigma dan generalisasi masih mencengkeram masyarakat dan kehidupan kita, satu-satunya cara untuk mengurangi efek negatifnya adalah dengan berhati-hati dalam membawa diri.

Almamater kita adalah kita. Penilaian orang terhadap almamater kita terbentuk saat mereka melihat kita. Dan kita adalah cerminan almamater kita. Semua hal baik, membangun, dan berguna yang kita pelajari di almamater kita janganlah dibuang hanya untuk ambisi sesaat. Atau memang pada dasarnya dirimu tidak belajar apapun yang baik selama sekolah di situ. Kalau sudah begitu, kita mau bilang apa lagi.

Saya punya pertanyaan iseng buat dia-yang-tidak-usah-disebut-namanya:

Pertama, apakah dia-yang-tidak-usah-disebut-namanya berhasil jadi pemersatu 6 kelompok yang dia sebut ada di kampus almamater kami? Kalau ya, saya pengen tahu cara yang dia tempuh waktu dia masih sekolah di situ. Karena pada jaman saya, kelompok-kelompok itu ada tapi tidak pernah terjadi konflik, bahkan potensi konflik pun tidak ada. Kita tahu ada kotak-kotak dan tidak mempermasalahkannya. Hal yang wajar buat manusia mencari manusia lain yang serupa dengan dirinya dan membentuk kelompok.

Pertanyaan kedua adalah soal fakta ada anak dari daerah selain Bandung dan Jakarta yang juga kuliah di almamater kami. Nah, mereka ini masuk kelompok yang sok keren atau suka nyindir? Tolong penjelasannya dong, saya bingung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s