STAR-based Interview

Satu hal yang membuat saya bersyukur pernah bekerja di bidang HR (Human Resources) adalah kesempatan mempelajari dan mempraktekkan teknik wawancara berdasarkan STAR. STAR sendiri adalah kepanjangan dari S(Situation: situasi), T(Task: tugas), A(Action: aksi), dan terakhir R(Result: hasil). Dengan teknik ini pewawancara menggali apa yang dilakukan (Action) oleh orang yang diwawancara saat menghadapi situasi (Situation) atau mendapatkan tugas (Task) tertentu, dan apa hasil (Result) dari tindakannya. Teknik ini berguna untuk memprediksi tindakan orang tersebut jika menghadapi S/T yang kurang lebih sama di masa depan. Walaupun ada komentar kalau orang bisa berubah dan layak mendapatkan kesempatan kedua, dengan STAR kita bisa meramal behavior di masa depan dengan track record dari masa lalu. People don’t change that much, they just adapt (especially in the workplace).

 

Pertama kali saya memakai STAR adalah waktu menginterview fresh graduate untuk posisi teknisi pabrik di kantor lama. Karena mereka fresh graduate tanpa pengalaman kerja, jadi yang saya tanya adalah pengalaman mereka di organisasi. Salah satu soft skill yang harus dimiliki teknisi adalah inisiatif untuk mencari solusi jika mesin break down. Contoh pertanyaan yang saya ajukan di suatu kesempatan (*):

 

P (Pewawancara): Coba kasih contoh saat kamu menghadapi suatu kerusakan dan kamu sendirian saat itu.

W (Yang diwawancara): Waktu itu saya terkunci di dalam ruang himpunan. Saya ga tahu yang rusak handle atau lubang kuncinya, dan saya sendirian dan tidak bawa HP. Ya sudah saya tunggu saja sampai ada yang datang.

P: Apa yang kamu lakukan sambil menunggu?

W: Saya tidur.

P: Apa kamu tidak menggedor pintu dan berteriak minta bantuan?

W: Buat apa? Ruang himpunan letaknya terpencil, suara saya ga mungkin kedengeran. Jadi saya tunggu saja sampai ada orang datang.

P: Akhirnya bagaimana? Berapa lama sampai akhirnya kamu keluar dari ruangan itu?

W: Saya ga ingat berapa lama. Akhirnya pintu didobrak dari luar.

P: Mungkin tidak pintu kamu dobrak dari dalam?

W: Mungkin saja, tapi saya ga kepikiran.

 

(*) kisah nyata interview seorang mahasiswa di Semarang tahun 2005. Kenapa saya masih ingat? Karena berkesan banget, bok.

 

Kesimpulan dari penggalan interview di atas adalah:

S: Terkunci di ruang himpunan.

T: Mengeluarkan diri dari sana.

A: Tidur (tidak membantu tercapainya R).

R: Tidak ada dengan hasil usahanya sendiri (dia hanya menunggu bantuan datang).

Dari mengumpulkan STAR tersebut bisa kelihatan kalau orang yang diwawancara tidak mempunyai soft skill yang diperlukan untuk pekerjaan teknisi mesin.

 

Teknik STAR berguna bukan hanya untuk orang yang mewawancara, tapi juga orang yang diwawancara supaya bisa memberikan jawaban yang logis dan runut. Adakalanya orang yang diwawancara memberikan jawaban yang mutar-mutar untuk suatu contoh kasus. Ini menjadi tugas pewawancara untuk mendapatkan STAR-nya. Selain untuk interview pekerjaan, STAR juga berguna untuk berbagai macam recruitment, seperti: recruitment asisten rumah tangga, pegawai toko, sampai calon kepala daerah.

 

Contoh interview untuk mendapatkan STAR dari seorang kepala daerah petahana yang hendak mencalonkan diri lagi:

P: Di kota ini ada banyak pungutan liar yang dilakukan oleh pegawai Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dinas KCS). Masyarakat diminta untuk membayar lebih dari tarif resmi supaya dokumennya cepat diproses. Apa yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi hal ini?

W: Oh ya, itu kan lumrah. Tarif resmi kan ga seberapa, cuma puluhan ribu Rupiah per dokumen. Ga ada salahnya nambah pemasukan pegawai Pemda dengan membayar tip.

P: Tapi dengan itu pegawai Pemda tidak akan memiliki standar pelayanan yang sama. Mereka hanya akan bekerja cepat untuk orang yang membayar lebih dari tarif resmi.

W: Oh bukan begitu, saya sudah bilang bolak-balik ke mereka supaya pelayanan tetap harus bagus karena masyarakat sudah membayar. Tip lebih yang diberikan bisa diterima dengan kerelaan, dan tidak boleh mempengaruhi kecepatan bekerja. Saya akan pastikan itu.

P: Bagaimana caranya Anda memastikan hal tersebut? Pernah lihat tanda “No Tipping” di parkiran mal di Jakarta?

W: Ya, tentu saja. Apa hubungannya dengan contoh yang tadi dikasih?

P: Prinsipnya sama, pegawai di tempat parkir dilarang menerima tip supaya mereka tetap mengutamakan obyektivitas, menjaga semua mobil yang diparkir di sana, tanpa kecuali, tanpa mengistimewakan beberapa mobil saja. Jika mereka diberi tip dan misalnya terjadi tabrakan beruntun, bukankah secara alamiah mereka akan lebih menjaga mobil yang memberi mereka tip, daripada yang tidak?

W: Analogi Anda terlalu ribet.

 

STAR yang hendak didapat oleh Pewawancara:

S: Pegawai Dinas KCS yang men-charge lebih dari tarif resmi untuk mempercepat proses pengurusan dokumen.

T: Menghilangkan praktek pungli karena tidak sesuai dengan Undang-undang.

A: Mengijinkan pemberian tip tapi standar kerja harus sama untuk dokumen yang dibayar dengan tarif resmi atau lebih dari tarif resmi.

R: Diprediksi tidak akan menghilangkan praktek pungli ini, karena ada pembiaran dari Kepala Daerah yang notabene pemimpin dari semua pegawai di Dinas KCS.

 

Mudah kan mengaplikasikan teknik wawancara berdasarkan STAR? Wawancara tidak harus langsung, tapi bisa juga memetakan dengan teknik STAR pernyataan-pernyataan si calon kepala daerah di berbagai media massa. Mari kita petakan dan kita lihat yang mana yang memberikan Action yang paling feasible dengan Result yang sudah terbukti.

 

Selamat memilih besok! Saya mau kembali membuat skenario STAR-based interview untuk si No. 2! (*)

 

(*) di Kabupaten Bekasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s