Budaya Kepantasan

Guru bahasa Perancis saya kebetulan juga adalah tetangga sebelah rumah saya. Selama hampir 2 tahun ini dia mempekerjakan seorang pembantu yang merupakan pembantu pemilik rumah yang dia sewa. Mbak ini pernah bekerja sebagai TKW, jadi ada nilai plus bisa sedikit mengerti bahasa Inggris. Usianya setengah baya dan dia mempunyai 2 anak laki-laki berusia sekitar 20 tahun. Dia mengaku ke saya kalau kedua anaknya bekerja sebagai kuli bangunan, tapi tidak pernah betah bekerja lama di satu tempat. Mbak ini yang membiayai hidup mereka bertiga, termasuk mencicil 2 buah motor untuk kedua anaknya.

Memasuki tahun ke-2 mulai timbul masalah. Anak si mbak kedapatan memakai baju milik suami guru saya setelah mereka pulang berlibur. Waktu ditegur, si Mbak bilang dia salah ambil dan kasih baju ke anaknya, dia kira itu kaos anaknya. Dia mengakui baju anak-anaknya dicuci dan disetrika di rumah guru saya. Guru saya bilang, tidak mungkin si mbak salah ambil. Yang ada si mbak sengaja ambil karena kaos itu masih ada di dalam kardus pindahan mereka dari Guangzhou, dan kardus itu belum dibuka waktu mereka pergi berlibur.

Kejadian ke-2 si mbak kedapatan mengambil roti anak-anak guru saya tanpa ijin. Sebagai informasi gaji dia 1.9 juta/bulan, dan tiap minggu mendapat uang 100 ribu untuk beras dan minyak. Taruhlah dia dapat 2.3 juta/bulan, sedangkan dia hanya bersih-bersih sekenanya. Saking “cepatnya” dia kerja, si Mbak jam 10 pagi sudah tidur siang dong sampai jam 12 siang. Uangnya selalu ludes buat membiayai anak-anaknya. Roti yang dia ambil juga buat anak-anaknya.

Beberapa lama kemudian si Mbak bikin ulah ke-3. Dia mau kerja part-time di rumah lain tapi tetap tinggal dan makan di rumah guru saya. Jadi setiap hari jam 10 dia akan pergi ke rumah majikannya yang ke-2. Waktu guru saya cerita ke saya, saya bilang kalau si Mbak memanfaatkan kebaikan dia. Mana pantes gitu punya 2 majikan tapi kerja setengah-setengah di rumah majikan pertama yang sudah menyediakan kamar dan semua hal yang dia perlukan. Si Mbak bahkan tidak pernah membereskan lantai 2 rumah besar itu karena guru saya tidak suka barang-barang pribadinya disentuh orang asing. Apakah si Mbak sudah keterlaluan?

Belum dong, saudara-saudara.

Ulah dia yang ke-4 adalah tidur di lantai dapur dan membiarkan 2 anaknya tidur di kamar dia. Suami guru saya tahu hal ini waktu dia keluar pagi-pagi untuk main Pokemon Go. Suami guru saya kasih peringatan terakhir. Satu kali lagi berulah, si Mbak harus keluar.

Dan terjadilah ulah ke-5 yang luar biasa mengherankan. Beberapa waktu lalu mereka sekeluarga pergi berlibur dan kembali lebih cepat dari jadwal. Waktu mereka kembali si Mbak dengan sengaja menahan pintu depan supaya mereka tidak bisa masuk? Kenapa? Untuk memberikan waktu buat anaknya yang sedang tidur di kamar tamu, untuk segera berbenah dan lari ke dapur. Suami guru saya meledak. Dia mau pecat si Mbak saat itu juga. Masalahnya tangan guru saya baru patah dan dia masih perlu si Mbak buat membantu pekerjaan rumah. Guru saya dan suaminya jadi berdebat soal ini. Keesokan paginya saya dimintai tolong untuk menerjemahkan ke si Mbak apa yang mereka mau. Jalan tengahnya gaji si Mbak akan dipotong, dan kalau anak-anaknya masih berada di sekitar rumah/berani masuk ke rumah, dia akan dipecat. Ini sambil guru saya mencari pembantu baru. Dia mengeluh kenapa mereka dimanfaatkan terus. Mereka sudah kurang baik apa. Gaji tinggi dibanding standar di tempat lain. Dia juga diijinkan bekerja di tempat lain dan dapat extra income. Kalau sampai menahan pintu supaya majikannya tidak masuk rumah karena nanti anaknya ketahuan keliaran di dalam rumah, apa itu ga keterlaluan namanya?

Sekarang guru saya sudah dapat pembantu baru. Dia kasih si Mbak 2 hari untuk berbenah barangnya. Datanglah si Mbak ke saya complain, barang saya banyak, saya ga bisa segera pindah. Saya kan sudah minta maaf anak saya tidur di dalam. Masak ga dimaafin?

Saya terpana waktu dia curhat gitu. Akhirnya saya bilang, setelah semua yang terjadi masih pantas ga sih Mbak mendapat perlakuan baik? You stole their kids’ food, you didn’t work there whole-heartedly, you let strangers coming into their house, touching their stuffs, sleeping in their room. Your sons don’t work for them. You do, and what you and your sons did was enough to make them feel unsafe IN THEIR OWN HOME.

Dasar si Mbak tukang berkilah dan tidak jujur ( saya sudah kenyang dengan tipe pegawai begini waktu masih jalanin babyshop), mulai merengeklah dia sama saya, minta saya membujuk nyonya dia supaya ga jadi dipecat.

Saya ga mau.Saya sampaikan apa yang guru saya bilang. Pack your things and go. Keliatannya kejam, tapi si Mbak sebenarnya hanya menuai apa yang dia tabur. Peringatan sudah diberikan lebih dari 3x soal anak-anaknya si Mbak yang masih keluar-masuk rumah. Kalau pas guru saya lagi keluar dan saya liat mereka begitu, saya kasih tahu ke guru saya. Bolak-balik seperti itu dan si Mbak masih dablek juga.

Di manakah budaya kepantasan? Di manakah sense untuk menempatkan diri? Saya cukup malu sebagai orang Indonesia. Walau guru saya bilang dia tidak mengeneralisir semua orang Indonesia seperti itu, dalam hati saya menyayangkan pengalaman buruk dia selama menetap sebentar di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s