Pusing-pusing di KL

Akhir Juni lalu kami sekeluarga ikut Papa Misael bus-trip ke KL (suami business, family trip, hehe) selama enam hari. Ini kali pertama saya dan anak-anak ke KL, sementara suami udah sering ke sini. Setelah serangkaian kejadian tidak enak di perjalanan menuju KL akhirnya kami tiba dengan selamat dan menginap di dekat Suria KLCC Mal. Enaknya hotel dekat mal: ada buggy gratis buat tamu hotel (lumayan ga usah jalan kaki gendong Sky), gampang cari makan, bisa duduk-duduk santai sambil makan es krim di kolam depan mal. Selama empat hari efektif di sana kami seringgg sekali main ke mal ini, lebih sering dari 1 tahun main ke mal di Jakarta.

Highlight traveling kali ini di KL:

 

  1. KLCC Suria Mal

Mal lah ya, kayak di Jakarta. Penuh dengan barang branded dan orang kerja (suasananya mirip Pacific Place). Yang menyenangkan dari mal ini: makanan di food court di mal ini murah, jauh lebih murah dari makan di luar di Jakarta. Pizza peperoni ukuran L 45 ribu saja, mango sticky rice 15 ribu saja, kwetiaw 18 ribu saja. Ini makanan di mal gede di pusat kota, tapi harganya terjangkau banget. Sempet masuk ke Kinokuniya tapi ga lama-lama, karena khawatir dengan Sky yang berantakin barang-barang pajangan di sana. Oya harga mainan di sana juga lebih murah dibanding Jakarta. Anak senang, kantong mama ga senang, haha.

2. Batu Caves

Kami ke sini setelah pindah hotel dari area KLCC ke area Chow Kiet. Perjalanan ditempuh mulai dari jalan kaki sekitar 30 menit ke stasiun LRT terus naik LRT ke stasiun Batu Caves. Keretanya nyaman, AC nya kencang dan lumayan bersih karena setiap kereta berhenti ada petugas yang membersihkan kereta. Kesadaran buang sampah pada tempatnya apa masih rendah ya, sampai perlu petugas khusus segala. Sampai di Batu Caves kami disambut dengan aroma wangi nan semerbak: campuran aroma dupa, urine manusia dan monyet, dan kotoran burung. Tempat ini jorok luar biasa. Mulai dari keluar stasiun, di jalan menjelang anak tangga yang super banyak itu, masuk ke dalam gua di atas bukit, semuanya kotor. Monyet-monyetnya juga agresif, ngejar manusia yang kelihatan bawa makanan (Misael sempet jadi korban). Kayaknya ga ada yang peduli dengan kebersihan ya. Ga jelas juga apa ada petugas pariwisata atau sejenisnya di situ. Tempat yang berbayar cuma gua untuk melihat figur cerita di Ramayana (sekitar 15 ribu). Naik ke ratusan anak tangga itu tidak dipungut biaya (mesti sewa kain untuk menutupi lutut ke bawah kalau kita pakai celana/rok pendek). Gua di atas bukit sangat lembap, bau, dan penuh sampah. Ada tempat sembahyang di atas situ dan orang-orang kayaknya ga peduli untuk menjaga kebersihannya (beda dengan yang kami lihat di Chiang Mai. Buddhist temple relatif bersih dan rapi). Anak-anak super rewel karena mereka orang yang bersihan. Suami ga mau foto-foto karena ga worth it. Walhasil jam 2 an kami sudah balik ke hotel. Yak, mari kita berenang sambil menunggu waktu makan malam di Bukit Bintang. Heran kenapa tempat ini bisa disebut tempat wisata. Ga pantes banget.

 

3. Petronas Sains Museum

Museum ini ada di lantai 4 KLCC Mal. Ada area yang gratis tempat anak-anak bisa coloring dan main bongkar-pasang balok. Bagian yang berbayar biayanya sekitar 150-200 ribu/orang (dewasa dan anak-anak). Museum ini cukup menarik dan banyak pengunjung. Iklan Petronas ga ketinggalan lah ya. Dimulai dengan peraga jaman dinosaurus, bagaimana minyak dan gas bumi terbentuk, sampai tawaran untuk join kerja di Petronas. Yang kami paling suka adalah peraga kehidupan di angkasa luar, mulai dari: simulator badai di planet Jupiter, film tentang bagaimana astronot tidur/menggosok gigi/masak di luar angkasa, berfoto dengan space suit, dll. Kami juga mengagumi tiruan rig lepas pantai yang mirip banget dengan aslinya. Yang paling senang tentu anak-anak karena bisa explore dan manjat-manjat di rig. Mungkin nanti salah satu dari mereka perlu kuliah di teknik perminyakan ITB (nostalgia, hehe). Oya di sini juga ada alat namanya Batak Tester. Apa hubungannya dengan orang Batak? Ternyata ga ada. Alat ini untuk mentes kecepatan respon mata dan tangan. Jadi ada lampu berkedip dan kita harus segera menekan lampu itu untuk mematikannya. Simulasinya cuma sekitar 20 detik. Hasil tes saya sedikit di bawah hasil tes suami. Padahal saya orang Batak ya, harusnya lebih reaktif, hehe.

4. Bukit Bintang

Tempat belanja. Yang menghebohkan di sini adalah H&M. Harganya setengah harga di Jakarta, kakak. Keponakan saya sampe ikut euforia lihat saya beli dress harga 150 ribu sajah, di Jakarta harganya 350 ribu. Tapi ya pegawai H&M bener-bener ga ramah ya (mau dari ras mana pun). Ada satu kejadian ga enak waktu kami mau masuk ke ruang ganti sambil bawa belanjaan. Eh dilarang dong, disuruh nunggu di luar selama suami nyoba baju. Kami dicurigai mau nyuri apa ya. Udah ngomongnya judes terus bahasa Inggris dan Melayu nya separuh-paruh. Bener-bener bikin ga seneng. Udah gitu pas dateng keesokan harinya buat tuker baju karena salah size, ada pegawai yang extra malesnya. Jelas-jelas kami datang ke bagian refund and exchange, eh sama dia dilempar lagi ke kasir di lantai atas. Kalo kayak gini jadi inget perilaku di kampung halaman.

5. Chow Kiet Area

Hotel kedua yang kami tinggali di KL berada di area ini. Persis di depan jendela kamar ada track LRT, di sebelah hotel ada pasar basah dan pasar kaget mulai sore. Dua dari tiga malam kami di sana ada bazar dadakan di pinggir jalan. Bazarnya bertujuan baik, membagikan makanan dan pakaian ke gelandangan. Ada juga yang buka potong rambut gratis, yang ngantri sampai puluhan orang. Mulai dari yang kelihatan gelandangan sampai yang kelihatan sebenernya mampu untuk bayar. Sampah keesokan harinya? Hm, jangan ditanya deh. Trotoar, pekarangan ruko, pekarangan kantor penuhhh dengan sampah. Aduh, sama aja kayak di Indonesia. Di area ini kelihatan juga ada ketegangan antar ras. Dari jendela hotel saya melihat ada dua motor tabrakan. Dua-duanya salah, naik motor di atas trotoar, ngebut lagi. Waktu penumpang salah satu motor jatuh (ibu-ibu), mulailah dia playing victim. Orang-orang mulai kumpul, penasaran, dan ikut campur. Apalagi yang tabrakan beda ras. Kok kayaknya ada pemojokan ya. Ga seneng deh lihatnya. Daerah Chow Kiet ini juga jorok. Orang buang sampah persis di luar jendela apartemennya. Di jendela yang sama juga ada gantungan pakaian basah. Semuanya kelihatan dari jendela hotel. Lengkap deh, liat daerah trendy sekitar KLCC dan daerah gheto yang jaraknya sebenarnya cuma 1.6 km dari Twin Towers.

 

KL sebagai kota pertama di Malaysia yang kami kunjungi keliahatan punya banyak potensi konflik. Kalau di Indonesia rata-rata orang berkulit sawo matang. Di sini ras langsung kelihatan kebagi lima: India, Cina, Melayu, Barat, Timur Tengah. Antar kelompok ga segan-segan menunjukkan rasa ga suka sama kelompok lain. Bahkan di mal segede KLCC kalau sekelompok ras masuk ke lift dengan suara keras mereka, ras lainnya langsung nunjukin muka sebel. Olala, gimana bisa dibilang satu bangsa ya. Misteri buat saya.

 

Dan perilaku bancakan-nya banyak. Bayar makanan, kembalian dikurangi antara 10-50 sen. Memang nilainya ga seberapa, tapi yang penting kan kejujurannya. Kalau saya minta uang yang kurang, saya dicibir. Lah, emang duit datang dari langit. Terus resepsionis di hotel di Chow Kiet seneng banget dititipin segalaaa macem, dengan fee 10% nilai barang. Mau beli rokok bisa (ga bisa beli rokok di pasar di siang hari karena bulan Ramadhan), mau panggil taksi bisa, apa aja bisa asal ada fee. Buat bancakan pake jam kerja dan fasilitas kantor, tapi fee yang didapat masuk ke kantong sendiri. Ga bisa apa ya fokus dengan pekerjaannya dan ga cari sampingan kayak gini?

 

Anyway, apakah saya mau traveling ke KL lagi? Enggak ah. Kotanya, orangnya, tempat wisatanya tidak mengesankan. Yang enak dari KL cuma harga H&M yang lebih murah dari Jakarta. Hehehe. Sekian laporan pandangan mata dari orang yang baru pertama kali ke KL.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s