Mengumpat di Depan Anak

Bolehkah kita mengumpat? Ada yang bilang boleh, sebagai cara untuk menyalurkan emosi. Ada yang bilang tidak boleh, karena mengumpat sama dengan mengutuk. Masakan mulut yang sama yang memuji sesama manusia juga merendahkan mereka? Mengumpat bisa ditujukan pada dua pihak, diri sendiri atau orang lain. Pada diri sendiri jika kita menyadari/menyesali kebodohan diri. Pada orang lain jika kita tidak menyukai perlakuan/perkataan orang lain pada kita.

 

Sebelum berkeluarga mulut ini rasanya mudah sekali mengumpat. Kadang umpatan yang keluar tidak bermakna serius, bahkan kadang umpatan itu bermakna pujian. Contohnya dalam bahasa Inggris, mengumpat “damn” (sialan) saat melihat Leo Dicaprio mendapat Oscar dan saat melihat Donald Trump berkampanye bisa jadi memiliki makna yang berbeda. “Damn” di kasus pertama bisa diikuti dengan “yes, he does earn it”, dan di kasus kedua bisa diikuti dengan “gosh, he is such a bigot”. Kelihatan kan bedanya?

 

Setelah memiliki anak pastinya mulut dan tingkah laku jadi punya rem otomatis. Bagaimanapun juga anak itu peniru yang ulung. Kita sebagai orang tua tidak senang jika anak meniru hal yang buruk dari kita. Kita tidak akan senang melihat anak yang mengumpat, tapi kenapa banyak dari kita yang masih suka mengumpat? Ada standar ganda ya di sini: anak tidak boleh mengumpat, tapi orang tua boleh mengumpat, ASAL tidak didengar dan tidak ditiru oleh anak.

 

Ada orang tua yang mengakali mengumpat dengan mengeja umpatan itu. Contoh, waktu jari terjepit pintu kata-kata yang keluar adalah “s-h-i-t”, bukan “shit”. Kedengarannya membantu sampai anak berumur sekitar 6 tahun dan mulai rajin mengeja kata apa pun yang dia baru pelajari. Dari situ orang tua bisa kelimpungan meladeni pertanyaan dan keingintahuan anak. He-he.

 

Ada yang mengganti kata-kata umpatan dengan istilah yang lebih umum. Seorang teman saya di kuliah selalu bilang “ayam goreng” padahal maksud dia adalah bilang “sialan”. Orang yang baru kenal dia tidak ngeh maksud “ayam goreng” yang sering kali muncul dalam percakapan. Orang yang sudah lama kenal dia kadang bingung dengan arah pembicaraan dengannya. Teman kita ini lapar terus, atau gimana ya? Cara ini terbukti bisa membingungkan lawan bicara si pengumpat.

 

Jadi, masih boleh mengumpat atau tidak? Tergantung pada nilai dan prinsip setiap individu. Ada yang merasa mengumpat membuat emosinya lebih lepas. Ada juga yang belakangan menyesali setelah panjang-lebar mengumpat. Hal yang riskan sebenarnya adalah saat mengumpati orang lain, orang yang dikeluhkan tersebut mendengarnya. Bisa-bisa terjadi penganiayaan sampai pembunuhan karena sakit hati. Hari gini semua orang gampang tersinggung. Umpatan kecil bisa jadi dibayar dengan nyawa.

 

Karena anak adalah peniru orang tua, sudah sewajarnya apa yang orang tua harapkan anak lakukan dilakukan lebih dulu oleh orang tua. Tidak mau anak mengumpat? Jangan mengumpat, ada ataupun tidak ada anak. Mengumpat itu kadang keluarnya tidak disengaja dan tidak disadari karena sudah jadi kebiasaan, tapi efeknya bisa runyam. Tidak mau anak malas belajar? Orang tua jangan malas bekerja. Tidak mau anak bangun siang? Orang tua harus bangun pagi duluan. Intinya adalah memberi contoh dan terus memperbaiki diri selama berusaha menjadi contoh bagi anak.

 

Easier said than done, though. Paling aman adalah mengumpat (mengomel) dalam hati saja.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s