Pemimpin Galau

Jika mengacu pada 4 tipe kepribadian manusia (kolerik – plegmatik – sanguin – melankolis), kebanyakan pemimpin memiliki tipe kepribadian kolerik-plegmatik. Dengan tipe kepribadian ini pemimpin menjadi orang yang mempunyai tujuan, bekerja keras untuk mencapai tujuan itu (khas kepribadian kolerik), dan tidak ambil pusing dengan penghalang-penghalang yang merintanginya dari tujuannya (plegmatik). Pemimpin seperti ini tahu betul mereka mau apa. Istilah kasarnya: bodo amat lu mau bawel mau apa kek, yang penting gw jalan terus.

Tidak sedikit pemimpin di dunia dewasa ini yang menggunakan media sosial untuk: 1) membangun persepsi orang terhadap citra diri mereka, 2) memberikan informasi pada pemilih mereka dan masyarakat luas, atau 3) membagikan hal-hal yang bersifat pribadi, seperti pendapat pribadi dan aktivitas keseharian keluarganya. Media sosial para pemimpin ini ada yang dikelola sendiri dan ada juga yang dikelola oleh institusi tempat mereka bekerja (sebagai contoh: akun White House secara rutin mengekspos kegiatan presiden Amerika saat ini, Barack Obama). Batas-batas interaksi antara seorang pemimpin dengan massa yang dihimpunnya di media sosial menjadi tidak jelas saat akun yang digunakan adalah akun pribadi yang dikelola sendiri. Di satu sisi timbul efek psikologi bahwa pemimpin itu orang yang dekat dengan masyarakat, layaknya seorang teman. Di sisi lain, jika seorang pemimpin tidak hati-hati, kehidupan pribadinya menjadi begitu terekspos sehingga massa sulit membedakan mana sikap/pandangan/pendapat yang berhubungan dengan pekerjaannya, dan mana yang merupakan sikap/pandangan/pendapat pribadi si pemimpin. Sebagai contoh: seorang polisi yang mengepalai divisi narkotika dapat saja tidak menyetujui hukuman mati bagi terpidana narkoba karena alasan kemanusiaan. Jika pendapat ini dituangkan lewat media sosial dengan akun pribadi, dapat muncul kesan bahwa polisi sebenarnya menolak keberadaan hukuman mati (walau sebenarnya hanya satu orang polisi yang menyatakan demikian). Dan dari setiap update di akun sosial media seorang pemimpin kita bisa melihat secara gamblang tipe kepribadian yang ia miliki, bahkan memprediksi tindakan yang akan ia ambil.

Sejak 2012 banyak sekali pemimpin dan calon pemimpin di Indonesia yang menggunakan media sosial untuk berbagai hal seperti: 1) kampanye politik, 2) permintaan dukungan, 3) memberikan informasi seputar program kerja, 4) membagikan hal-hal keseharian yang ada di luar konteks pekerjaannya. Dari setiap update di akun medsos akan selalu ada massa yang mengomentari positif (pujian, dukungan, saran) dan negatif (hinaan/celaan) terhadap update tersebut dan terhadap komentar dari massa yang lain. Dari FB page beberapa pemimpin ini saya melihat populasi dan pola pikir para komentator itu. 1. SBY: mereka yang menyanjung beliau, menjelekkan presiden yang sekarang, dan berilusi kalau beliau akan jadi presiden lagi tahun 2019. 2. Jokowi: mereka yang memuji pemerintahannya dan sekaligus menghina presiden-presiden sebelumnya, mereka yang masih saja mempersoalkan fisik-keluarga-pemerintahan Jokowi. 3. Ahok: mereka yang mendukung program kerjanya, dan ada sebagian kecil yang masih mempersoalkan kenapa dia cina dan kafir. 4. RK: mereka yang mendukung programnya, mereka yang minta didoakan supaya tidak jomblo lagi, dan sisanya adalah mereka yang mem-bully habis-habisan orang-orang yang menyampaikan aspirasi nyata seperti pasar yang semrawut dan jalan yang macet.

Saya mau membahas si pemimpin no.4. Saya heran kenapa dia memakai kejombloan sebagai cara engagement dengan massa media sosial yang ia gunakan. Apakah mungkin pernah disurvei kalau pemilih dirinya pada pilkada adalah orang-orang muda di rentang usia 20-30 tahun, dan senang berkutat pada hal-hal sepele dan tidak produktif? Mungkin saja. Setelah beberapa tahun, engagement ke massa melalui terminologi jomblo-mantan-cepat nikah-ayo dihalalkan-dll hanya terlihat sebagai hal yang “seru” tanpa esensi sama sekali. Yang komen di update status yang berhubungan dengan terminologi di atas sangatlah banyak, bisa ribuan orang dalam satu hari, seperti orang-orang yang kurang kerjaan dan hanya mencari keseruan.

Saya lahir dan tinggal di Bandung selama 22 tahun, dan orang tua saya masih tinggal di sana. Tidak ada perbedaan signifikan kehidupan di kota ini di era sebelum dan sesudah reformasi. Pemimpinnya tetap tidak dikenali, kotanya seperti berjalan sendiri, pengelolaan sampah pasar tidak pernah berubah selama puluhan tahun, trotoar tetap dikuasai kaki lima, jalan makin macet karena setiap orang mewajibkan dirinya punya kendaraan pribadi (mustahil mengharapkan kelayakan dan adanya jaringan transportasi publik). Pilkada yang menghadapkan walikota petahana Dada Rosada dan RK saat itu seperti membawa angin segar. Ini ada calon walikota yang muda, berenergi, memiliki pendidikan baik yang syukur-syukur bisa mengubah kota Bandung. Namun setelah beberapa tahun sejak RK menjabat setiap akhir pekan ke Bandung saya tetap melihat hal yang sama:

  1. Motor yang sembarangan dan nekat melawan arus kendaraan.
  2. Polisi lalu-lintas yang diam saja walaupun ada pelanggaran terjadi di dekatnya.
  3. Sampah pasar yang dibiarkan menggunung. Pedagang pasar sambil berdagang sambil membuang sampah ke jalan.
  4. Jalan yang macet karena banyak motor mengambil alih lajur dari arah sebaliknya, dan butuh waktu untuk menguraikan keruwetan ini (jalan tambah macet).
  5. Tanaman di jalur hijau banyak yang mati atau hilang. Tanaman-tanaman itu cuma bertahan sekitar 1 bulan setelah KAA.

Bandung bukan cuma Jalan Riau, Dago, dan Setiabudhi, bukan cuma area yang sering dikunjungi turis. Kota Bandung punya empat batas di keempat arah mata angin yang semuanya perlu diperhatikan. Kalau yang didandani daerah pusat terus, bagaimana dengan bagian lain dari Bandung. Tempat-tempat yang jadi hub dengan area lain seperti bandara dan stasiun kereta api perlu diprioritaskan untuk dibenahi. Pernah coba cari parkir di bandara Husein? Anda beruntung sekali kalau bisa menemukan spot parkir dalam waktu kurang dari 1 jam. Di bandara ini tidak ada garis-garis pembatas spot parkir (saya pernah parkir persis di depan warung karena yang punya warung kasihan sama saya, sudah muter-muter bawa 2 anak selama 40 menit), petugas parkirnya juga tidak kelihatan, orang parkir di area drop-off dibiarkan (kalau kita klakson supaya dia maju eh malah kita yang dimarahi). Itu sekilas gambaran kondisi bandara. Bagaimana dengan stasiun kereta apinya? Kotor (sampah berserakan, ranjau ludah di mana-mana) dan sesak dengan angkot/taksi resmi/taksi gelap/kendaraan pribadi.

Kesimpulannya, Bandung belum banyak berubah dan pemimpinnya mulai tidak fokus. Pemimpinnya ambisius dan ambisinya terlihat sangat jelas, ketemu orang sana-sini, mempertimbangkan berbagai opsi, mulai gamang karena terus dikompori oleh para komentator status. Maju di pilkada DKI 2017 atau stay di Bandung. Tapi yang paling mengherankan adalah status si no. 4 menanyakan ke massa di akun FB-nya apakah dia harus maju/tidak maju di pilkada DKI. Aneh ya? Sulit sekali memetakan (bahkan memprediksi) populasi netizen: usia, pendidikan, mata pencaharian, kemampuan ekonomi,dsb, karena informasi di profile mereka banyak yang bukan informasi sebenarnya. Jadi bagaimana mungkin pendapat dari netizen yang tidak terkonfirmasi bisa dianggap sebagai pendapat yang sahih? Ingat si no. 1 yang kapan hari mengumpulkan netizen untuk tahu apa pendapat mereka tentang revisi UU tentang KPK. Mengingat partai si no. 1 bukanlah partai berkuasa di parlemen dan partainya sempat menerima dan kemudian menolak revisi karena diinstruksikan bos besar, tindakan mengumpulkan netizen ini seperti menjaring angin.

Merujuk kembali pada 4 tipe kepribadian manusia dan tipe yang ideal bagi seorang pemimpin, bapak no. 4 tidak menunjukkan karakter kolerik-plegmatis, tapi sanguin-melankolis. Sanguin yang supel dan mudah diterima oleh banyak kalangan sekaligus melankolis yang galau. Seolah tidak bisa melangkah kalau tidak dengar pendapat sejuta umat. Di mana kemandirian dan keteguhan hatinya? Keputusannya untuk mengambil keputusan setelah melihat komentar di status FB dan kemudian mengumumkan keputusan itu di tanggal yang khas, 29 Februari yang hanya 4 tahun sekali, mencoba membangun suspens dan ketegangan di benak massa. Akankah dia berlaga melawan Ahok atau tidak? Apakah suspens itu berhasil? Di timeline saya muncul satu kata sepakat mengenai keputusan bapak no. 4: kalau mau nyalon jadi gubernur DKI ya nyalon aja. Gitu aja repot. Kurang lebih seperti itu ya. Ada yang menulis satire, sarkasme, dan mengomentari beliau sebagai public servant paling melodramatis, tidak ada pesaingnya (kecuali mungkin SBY).

Semoga berita tentang keputusan RK ini berhenti sampai hari ini saja. Sayang sekali kalau tanggal bagus dan unik seperti 29 Februari diisi dengan curhatan galau seorang pemimpin. Semoga bulan Maret diisi dengan banyak berita tentang produktivitas real para pemimpin kita.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s