Kematian dan Kefanaan Manusia

Setiap manusia yang pernah lahir pasti akan menghadapi kematian suatu saat. Entah itu datangnya seketika seperti dalam peristiwa pesawat yang jatuh, atau datangnya setelah penderitaan manusia yang berlarut-larut. Tidak ada yang bisa menghindarinya, tidak ada yang bisa tahu kapan waktunya. Bagi mereka yang mempunyai iman dan/atau kepercayaan akan adanya kehidupan setelah kematian, kematian bisa berarti hanya pemisah sementara antara yang pergi dan yang ditinggalkan. Ada harapan akan penyatuan kembali, perjumpaan kembali, entah dalam bentuk surga/nirwana/reinkarnasi, semua bergantung pada yang diyakini setiap orang. Bagi yang tidak mempercayai akan adanya kehidupan setelah kematian, kematian menjadi finalitas, sebuah titik akhir tanpa cerita yang bersambung sesudahnya.

 

Tidak pernah ada seorang pun yang mengalami kematian lalu kembali ke kehidupan ini selain, yang saya imani, Tuhan saya Yesus Kristus. Pernyataan ini menjadi anugerah bagi yang mendengarnya, dimana yang mendengar dianugerahi iman untuk memercayainya. Bahwa suatu saat kami yang percaya akan dibangkitkan bersama-sama dengan Tuhan, dan memperoleh tubuh yang baru. Seandainya tidak ada iman itu, tentu saja kematian hanya menjadi ambang keputusasaan, awal dari kenihilan. Waktu yang kita punyai di bumi begitu pendek tanpa kita tahu darimana kita datang dan ke mana kita pergi setelah waktu itu habis.

 

Kematian tidak pernah bisa diterima dengan siap, bahkan dalam kondisi kematian itu sudah diantisipasi dari jauh-jauh hari karena (mungkin) penyakit berat. Penyesalan akan selalu ada di hati yang akan pergi dan yang akan ditinggalkan. Seandainya waktu dipergunakan dengan lebih baik, seandainya tidak larut dalam kemarahan, seandainya bisa bersikap lebih baik, seandainya bisa bertindak lebih bijaksana, seandainya bisa bekerja lebih banyak, dan berjuta “seandainya” yang lain. Bukan manusia namanya kalau tidak menyesal belakangan, saat nasi sudah menjadi bubur. Seperti kata Pendeta Stephen Tong, waktu bukanlah uang. Waktu adalah kehidupan, karena begitu waktu habis maka habislah kehidupan itu. Dan di dalam waktu itu kita melakukan banyak hal yang kita sesali, yang tidak dapat kita tarik kembali.

 

Kematian tidak pernah adil. Semua manusia menginginkan kelahiran yang normal, bertambah tua dan pengalaman dengan orang-orang terkasih, dan terakhir kematian setelah usia yang panjang. Manusia hidup 70 tahun, kata Alkitab, 80 tahun kalau dia kuat. Tidak semua orang mendapatkannya. Kapan dan bagaimana kita dipanggil akan selalu menjadi misteri Ilahi, bentuk dari kedaulatan Pencipta. Hal ini tidak dapat dipungkiri, bahkan oleh mereka yang menolak mengakui keberadaan Tuhan. Usaha manusia untuk memperpanjang usia sudah tak terhitung banyaknya. Mulai dari hal gaib, meminum ramuan, sampai yang disebut-sebut sebagai teknologi pengunci gen penuaan. Tak akan ada usaha yang berhasil. Seperti makhluk hidup lainnya, tubuh fana kita pada akhirnya akan decaying, menuju pada kehancuran.

 

Ada kalimat di Alkitab yang mengatakan, “Lebih baik pergi ke rumah duka, daripada ke rumah pesta.” Di dalam pesta kita bersukacita, namun di rumah duka kita jadi lebih bijaksana. Bijaksana dalam melihat waktu, bijaksana dalam memperlakukan orang lain, apalagi keluarga dan orang-orang terdekat kita. Walaupun ada penyesalan dan berjuta seandainya saat kematian itu menghampiri, setidaknya bagi yang pergi dan yang ditinggalkan ada perlombaan yang telah selesai dijalani dimana dua belah pihak sudah ambil bagian di dalamnya. Setelah banyak jatuh-bangun, luka, dan goresan sepanjang lomba, pada akhirnya lomba itu selesai juga dan peserta bisa pergi, bisa pulang ke Penciptanya dengan suatu hasil. Sedangkan yang ditinggalkan akan mewarisi hasil lomba, sebagai bekal bagi kehidupan yang masih dianugerahkan bagi mereka.

 

Saya takut pada kematian. Kematian membuat saya merasa putus asa dan tenggelam tanpa ada harapan untuk bangkit kembali. Selain penyesalan karena tidak bisa menghabiskan waktu pada saat-saat terakhir sebelum mereka pergi, kenyataan bahwa saya tidak bisa lagi bertemu dan berkomunikasi lagi dengan mereka selalu membuat hati saya hancur. Yang menjadi highlight adalah kepergian Oppung Inang (Mama dari Mama saya) pada tahun 2003 dan Bapauda (adik dari Bapak saya) pada tahun 2013. Namun selain mereka ada banyak keluarga, saudara, dan teman yang pergi begitu mendadak, tanpa berpamitan, tanpa pertanda, dan meninggalkan lubang besar di hati dan kehidupan saya. Saya berasal dari suku Batak yang sangat mengutamakan kehadiran anak laki-laki dalam keluarga dan posisi saudara laki-laki dari mama (Tulang). Mama saya berasal dari empat bersaudara dan semuanya perempuan, sehingga yang kami panggil Tulang sejak kecil adalah sepupu-sepupu Mama. Walaupun tidak bersaudara kandung tapi kami satu akar. Yang kali ini pergi adalah Tulang yang kami kenal sejak masa kecil di Bandung, yang menyempatkan diri datang ke acara persiapan pernikahan saya, yang datang jauh-jauh dari Jakarta ke Bandung untuk acara pertunangan saya, yang saat almarhum sakit berat sayangnya saya tidak sempat menengok. Pagi ini dia pergi dan besok saya akan melihatnya untuk terakhir kali.

 

Selamat jalan, Tulang terkasih, Tulang Gustaf Saragih. Damailah dirimu di samping Bapa di Sorga. Sampai kita bertemu lagi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s