5 Tips for Traveling with Young Kids

Pada akhir Maret lalu kami bepergian jauh dan dalam jangka waktu yang cukup lama untuk pertama kalinya setelah Sky hadir dalam keluarga kami. Berbeda dengan Misael yang sudah biasa diajak traveling dalam dan luar kota/negeri sejak usia 6 bulan, Sky jarang sekali bepergian jauh dan berhari-hari. Penyebabnya yang pertama adalah Misael yang sudah sekolah, sehingga waktu untuk liburan keluarga harus mengikuti jadwal liburan sekolahnya. Kedua, sejak Sky lahir sampai Januari 2015 suami masih commute Surabaya-Cikarang, sehingga waktu senggang di akhir pekan kebanyakan dihabiskan di rumah, bukannya menjelajah tempat baru. Setelah suami kembali bekerja di Karawang kami berkomitmen untuk kembali menggiatkan hobi traveling keluarga kami.

Dengan usia Misael yang hampir 6 tahun (toddler) dan Sky yang hampir 2 tahun (infant), tentu perlu trik tersendiri untuk mempersiapkan mereka menjelang dan saat menjalani liburan keluarga. Berikut ini beberapa tips yang saya rangkum seusai perjalanan kami:

1. Sounding rencana liburan dari jauh-jauh hari
Kids are creatures of routines. Di usia 5 tahun Misael sudah mengenali dan saklek mengikuti rutinitas. Dalam satu minggu ada 2x les balet, 1x les piano, 1x les melukis, 2x ikut ke kantor mama, dan akhir pekan Jumat-Minggu yang isinya fleksibel. Jadi penting sekali sounding ke Misael kalau dalam waktu dekat dan untuk beberapa saat tidak akan ada segala kegiatan rutin, karena kami akan pergi melihat tempat baru yang jauh. Sounding di sini dilakukan sekitar 2 minggu sebelum traveling dimulai dan mencakup:
1) kapan kami akan berangkat –> tunjukkan kalender.
2) nama kota/negara yang akan dikunjungi, plus bahasa yang dipakai orang-orangnya. Misael bolak-balik tanya kenapa kami berbahasa Inggris terus-menerus dan orang lain berbahasa berbeda ~ bahasa Thai.
3) jarak relatif terhadap rumah kami –> sebut berapa jam yang dibutuhkan dari Cikarang ke Chiang Mai.
4) transportasi yang akan dipakai untuk menuju kota/negara itu. Di traveling kemarin kami naik mobil rental, naik pesawat, naik skytrain untuk ke terminal-terminal di Changi, naik pesawat lagi, dan kemudian dijemput dengan mobil oleh keluarga sepupu di sana. Dengan menceritakan sequence alat transportasi Misael tidak begitu kaget ketika kami harus menunggu selama transit untuk berganti pesawat, dan bisa dengan nyaman menghabiskan waktu dengan bermain di playground dan belanja mainan (emaknya bangkrut deh).
Kalau sounding ke baby Sky sih cukup dilakukan barengan dengan sounding ke Misael, karena Sky cuma terkekeh-kekeh kalau dijelaskan sesuatu, hehe.

2. Bawa barang-barang yang biasa anak-anak pakai dan mainkan
Buat Misael artinya kami harus membawa:
1) koper trunky pinknya (yang janji tinggal janji doang akan digeret sendiri sama si kakak, fiuh).
2) segerombolan figurines Sophia-Jake-Doc McStuffin.
3) t-shirt, rok,dan jeans favoritnya.
4) paint brush panjang milik Misael, karena dia senang pura-pura melukis sambil main air di bathtub.
Kami juga membawa kereta mainan buat Sky, yang sayangnya dicuekin selama seminggu karena anaknya lebih seneng mainin kabel earphone/telefon di hotel/seat belt di pesawat/dan barang-barang mekanik lainnya.
Membawa barang-barang favorit menciptakan anchor terhadap comfort & familiarity of their home, dan membantu mengatasi kerewelan anak. Contoh: memakai t-shirt favorit jadi salah satu cara membujuk Misael supaya mau cepat mandi dan bersiap meninggalkan hotel.

3. Liburan adalah untuk keluarga, bukan cuma untuk papa-mama
Traveling sampai Misael berusia 4 tahun adalah traveling ke tempat yang papa-mama inginkan, dengan itinerary yang diatur papa-mama. Sekarang dengan Misael yang sudah punya keinginan sendiri dan Sky yang ga bisa diem, lupakan deh visiting temples and museums for hours!
Sampe 2 tahun lalu saya bisa habisin 5 jam di 1 museum buat benar-benar explore dan baca semua keterangan benda-benda yang ada dalam museum. Dengan 2 anak seperti sekarang 3 museum cukuplah dijabanin dalam 2 jam, yang masih kepotong waktu buat ngebujuk Sky yang minta digendong, dan ngebujuk Misael yang menolak masuk ke beberapa ruangan eksibisi karena scary (museum di Chiang Mai kerasa banyak penunggunya, hiii …). Jadi ke manapun kami pergi saya berburu brosur berbahasa Inggris, minimal 2 biji karena kakak Misael juga hobi ngumpulin brosur.
Di traveling kali ini ujung-ujungnya yang kami cari adalah PLAYGROUND. Di hari ke-3 kami muterin Old City dengan niat awal ngunjungin 4 Wat (Buddhist Temple). Yang akhirnya kesampaian cuma 3 Wat dan di Wat terakhir cuma saya yang masuk selama 5 menit dan suami jagain anak-anak. Dan pada penghujung hari yang melelahkan itu kami terdampar di taman kota yang cantik di Old City. Anak-anak happy main kereta-keretaan, panjat-panjatan bersama sepupu mereka, Jonathan, yang tinggal di Chiang Mai. Dan papa-mama bisa duduk-duduk santai sambil ngobrol. Jalan kaki +/- 5 km di bawah terik matahari 35 derajat sambil dorong stroller dan gendong anak ternyata mengingatkan kami bahwa kami SUDAH TUA. Hahahaha …

4. Berbagi peta/Google Maps dengan anak
Tujuannya supaya anak-anak (at least Misael) punya sense arah dan accomplishment setelah mencapai tempat tujuan. Misael sangat happy ngelihat peta lokasi, apalagi di Chiang Mai Night Safari yang luas banget dimana kami sering berpindah tempat. Misael jadi sering buka peta dan bertanya, “Sekarang kita di mana?”. Misael dan Jonathan juga senang mengikuti panah di Google Maps di hp orang tua, dan bersorak girang kalau sudah nyampe tujuan. Hal sesederhana ini menambahkan keterlibatan anak-anak dalam rangkaian kegiatan selama liburan. Jadi mereka tidak hanya tahu kalau mereka sudah sampai suatu tempat, tapi juga cara mencapai tempat tersebut.

5. Be realistic, household chores will always be around
Judulnya memang liburan tapi liburan keluarga bukan me time untuk papa dan mama. Orang tua ga bisa bangun siang, ga bisa makan pas udah laper aja, ga bisa leyeh-leyeh internetan, intinya ga bisa berbuat sesukanya. Anak-anak tetap perlu dimandikan/disuapi/ditemani bermain, pakaian sekeluarga tetap perlu dicuci dan disetrika, dan seisi rumah tetap perlu makan teratur 3x sehari. Accept that fact, deal with it, and be done with it. Dengan begitu tidak ada ekspektasi berlebihan akan liburan yang bebas dari pekerjaan rumah tangga. Mungkin nanti kalau anak-anak sudah besar dan kami bisa pergi bulan madu yang belum kesampaian, karena setelah menikah kami langsung balik ke kantor :p.

Semoga 5 tips di atas bisa membantu teman-teman yang akan bepergian dengan anak-anak yang masih kecil, dan menikmati waktu liburan sekeluarga. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s