Bahasa dan Sastra Inggris

Waktu saya masih kelas 2 dan 3 SMP di BPK Penabur Bandung saya punya tiga guru bahasa Inggris. Yang satu mengajar khusus grammar, yang lain vocabulary, dan yang terakhir memperkenalkan sastra (prosa dan puisi) dalam bahasa Inggris. Bahasa Inggris diajarkan 9 jam dalam seminggu, cuma beda tipis sama matematika. Memang sedari dulu matematika dan bahasa Inggris jadi mata pelajaran yang penting banget di BPK. Sampai sekarang saya ga ingat nama guru-guru yang sudah berjasa memperkenalkan bahasa Inggris dalam berbagai dimensinya.

 

Guru grammar selalu dipanggil Miss Repeat, karena dia doyan banget kasih quick-fire question/quizz ke murid-muridnya untuk perubahan verb yang mengikuti tenses. Dia juga keukeuh mengajarkan macam-macam verb: ada modal verbs, auxiliary verbs, dan seterusnya. Untuk pengguna bahasa Indonesia verb dalam bahasa Inggris yang sedikit-sedikit berubah tergantung tense, pronoun, dll. tentu sangat menantang untuk dipelajari. Kata kerja dalam bahasa Indonesia gampang sekali dilihat konteks kejadiannya: dari keterangan waktu dalam kalimat si pengucap. Jadi Miss Repeat selalu minta kami untuk repeat, mengulang-ulang terus regular-irregular verbs bersama tenses-tensesnya. Dan dia juga senang menyuruh murid untuk membantu dia menulis materi pelajaran di papan tulis yang berkapur. Alasannya? Semakin sering kita menulis sesuatu, kita akan semakin ingat hal itu. Atau mungkin juga karena dia malas dan sudah berumur, haha.

 

Guru vocab dipanggil Mister OO. Itu karena kode pelajarannya OO, dan ga ada yang ingat nama tionghoa-nya yang terdiri dari tiga suku kata. Pak OO setiap hari menggeber kami dengan banyak artikel supaya kami belajar kosa kata baru. Hari ini bisa belajar tentang farming dan scarecrow, besoknya tentang skyscrapper dan urbanisation. Kayaknya dulu beliau ga punya guideline yang fix deh, intinya kami baca sebanyak-banyaknya supaya nambah pengetahuan sebanyak-banyaknya juga. Di jaman ga ada internet dan online newsmedia/library, kumpulan artikel yang beliau miliki sungguh membuat saya kagum.

 

Guru sastra adalah seorang wanita mungil yang dipanggil sugeng. Duh ga tega nulis arti nama panggilannya 😦 Ibu ini selama 2 tahun menjejali kami dengan Shakespeare. Prosa pertama yang dibaca: Romeo and Juliet. Puisi pertama yang dibaca: rangkaian puisi dalam Hamlet. Drama pertama yang dibaca: Macbeth. Si ibu ga tanggung-tanggung, semuanya dibaca dalam bahasa Inggris jaman baheula. Ga ada tuh yang namanya You, Your, Yours. Adanya Thou, Thy, Thine. Memusingkan dan menantang sekali. Kebanyakan teman saya cuma ingat Romeo dan Juliet gara-gara di tahun itu ada Romeo-Juliet versi Leonardo Dicaprio yang cakep dan manis! Leo emang ganteng sih, cuma ceritanya a BIG NO-NO. Itu cerita soal keluguan dan kebodohan anak muda yang pesan moralnya adalah:

1) Jangan meremehkan pandangan keluargamu soal pasanganmu. Pasangan bisa berganti-ganti, cinta datang dan pergi, tapi keluarga ga akan ke mana-mana. Dengar apa kata mereka. Blood is always thicker than water, bro.

2) Masih banyak ikan (calon pasangan –red) di laut. Saking cintanya sampe mau mati sama-sama? Hah, naif banget. Seandainya Romeo masih sedikit melek habis minum racun dan sesaat sebelum Juliet bangun dari pingsannya, terus keduanya bertatapan, keduanya pasti nyesel habis-habisan. Hiks ternyata cewek (/cowok) gue ga mati, jadi ngapain gue mau bunuh diri segala? Ga ada lagi kesempatan masa depan bersama dia. Huaaaa (*nangis bombay). Sungguh konyol bin bodoh :p

 

Nah waktu di SMA saya ikut les bahasa Inggris di LB-LIA Bandung yang perpustakaannya sangat ekstensif. Di situ bukan cuma ada Shakespeare; ada juga buku-buku karya Charles Dickens, Charlotte Bronte, Emily Bronte, Oscar Wilde, O. Henry, Sir Arthur Conan Doyle, to name a few. Perpustakaannya selalu sepi, mungkin karena buku-bukunya bukan aliran mainstream. Dua tahun kemudian semua terbitan Wordsworth dan Penguin Classics diganti dengan buku pop semacam Animorf. Ihiks, seandainya dulu ada duit, sudah daku beli semua buku-buku itu 😦 Penulis-penulis yang lawas itu menulis dalam konteks masa lampau, tapi dengan pesan moral yang bisa dilanjutkan sepanjang jaman. Dalam The Picture of Dorian Gray (Oscar Wilde) ada pesan mengenai bahaya dari narsisme. Kadang saya membayangkan gimana reaksi Oscar Wilde kalau melihat orang masa kini yang doyan banget selfie sampe ratusan kali sehari. Heuheu. Dalam Heathcliff (Emiliy Bronte) ada pesan mengenai roda kehidupan kadang di atas kadang di bawah. Siapa sangka Heathcliff yang dulunya yatim-piatu dan tidak diperhitungkan orang, waktu dewasa jadi orang kaya yang sangat berpengaruh. Itu cuma dua contoh dari banyak sekali pesan yang saya dapat sejak usia 13 tahun karena berkenalan dengan sastra Inggris.

 

Weekend lalu saya mampir ke toko buku Books & Beyond di mal Lippo Cikarang. Toko bukunya ga nempatin space untuk tenant tetap, tapi cuma di lorong di antara toko-toko lain yang lebih ramai pengunjung. Eh saya kaget banget liat ada koleksi Wordsworth Classics berderet. Yang dipajang paling pertama adalah 100 cerpen O. Henri, terus di belakangnya ada kumpulan dongeng Hans Christian Andersen (Little Mermaid, The Snow Queen (! Hello, Elsa!)), di belakangnya lagi kumpulan dongeng Grimm Bersaudara (Little Red Riding Hood, Hansel & Gretel), dan terakhir ada kumpulan petualangan Sherlock Holmes. Pas liat harga per bukunya, mau pingsan saking ga percayanya. Hanya 50 ribu Rupiah per buku! Wadow, murahnya, B&B kayaknya ga tau kalau buku-buku seperti itu bernilai tinggi di luar sana. Saya cinta banget sama aroma khas kertas dari buku baru. Ada kebahagiaan khusus yang ga bisa digantikan sama fasilitas membaca di gadget. Akhirnya saya beli semua koleksi Wordsworth yang dipajang, kecuali The Great Gatsby (F. Scott Fitzgerald), karena saya sudah nonton filmnya dan ga suka sama alur ceritanya.

 

So, memang sudah waktunya berbenah library di rumah. Berhubung Misael lagi belajar baca, mari perbanyak buku-buku sastra yang tidak perlu/perlu sedikit parental guidance. Novel-novel Harlequin dan Nora Roberts bakal dipak dan disimpan di attic, hehe. Sebagai penutup note ini, ada satu puisi yang sampai sekarang nempel banget di otak saya sejak saya mengenal sastra Inggris. Sayang saya ga ingat nama pengarangnya. Mungkin ada teman-teman yang tahu?

 

I knew from the day you met me

I could love you if you let me

Even though you touched my cheek

And said how easy you’d forget me

You said butterflies are free

And so are we

 

ps: puisi ini mengiringi ribuan (tsahhh) rangkaian cerita patah hati sebelum akhirnya ketemu Papa mis & sky. Hehehehe.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s