Tentang Membanding-bandingkan

Jadi ceritanya akhir-akhir ini saya sering dapat pertanyaan soal Misael: oh udah TK B ya, udah lancar baca dong. Waktu saya jawab: belum, ditanya balik: lho, kok bisa, kalo anak saya bla bla bla …. Nah begini ya, saudara-saudara. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain aja lebih banyak mudarot daripada manfaotnya, apalagi membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain. Coba deh kita pikir-pikir, apa coba keuntungannya membandingkan diri sendiri dengan orang lain? Positifnya ada, bisa dapat attitude: kan sama-sama makan nasi, kalo dia bisa kenapa gue enggak. Atau (lebih sering terjadi) malah timbul perasaan iri, cemas kalau ga bisa keep up dengan prestasi orang lain, inferior, etc. etc.

Dari kecil orangtua saya ga pernah membandingkan saya dengan teman saya, anak teman mereka, atau sepupu-sepupu saya. Mungkin karena mama saya dulu bekerja full-time ya jadi ga pernah kenal yang namanya kongkow nungguin anak sekolah yang berujung ke kekhawatiran: kok anak dia ulangan dapet 100, anak gue enggak ya. Selama SD saya juara 1 di kelas saking senengnya belajar. Nah pas kelas 2 SMP saya lelah luar biasa sampe akhirnya dari rangking 1 turun ke rangking 12. Saya tahu bapak dan mama kecewa, tapi mereka cuma tanya: apa kamu puas dapat ranking segitu. Tentu saja sini ga puas karena guru-guru juga kecewa sama sini, dan ga ragu-ragu mengumumkan di depan kelas soal si rijo yang sekarang ga pinter lagi. Blah, penting banget deh.

Membandingkan itu sama kemampuan diri sendiri, bukan sama kemampuan orang lain. Tiap orang berbeda talenta dan keahliannya, ga bisa dipukul rata. Dari SMP saya tahu saya lemah banget di fisika dan biologi, dan kuat banget di matematika dan bahasa, tapi saya ga bilang sahabat saya waktu itu lebih bodoh dari saya. Nilai total di rapor memang berkata saya lebih unggul, tapi sahabat saya adalah orang yang saya cari waktu mau ulangan fisika/biologi, karena dia pintar sekali di situ. Kesimpulannya, walau orangtua tidak pernah membanding-bandingkan saya dengan orang lain, kesadaran untuk “do my best until I reach my limit” baru muncul pas SMP, dan kemudian lanjut sampai masa-masa pendidikan berikutnya.

Nah Misael yang bakal masuk SD bulan Juli nanti bakal mengenal proses penilaian di sekolah dengan angka 0-100, ga kayak di TK sekarang yang cukup dengan keterangan: C=consistent, D=developing untuk suatu skill. Saya harus cukup melengkapi mental saya dan Misael untuk benar-benar berjuang, kasih yang terbaik dari kemampuan diri sendiri. Berapa pun nilai yang Misael dapat, pertanyaan mama bakalan: do you think you can do better than this? Gitu aja, ga pake repot. Mama juga bukan orang yang banyak cincong, less people to mingle with, less craps to deal with. Ga pernah pusing dengan anak-anak teman yang lesnya bejibun lebih banyak dari Misael, ga pernah pusing dengan mereka yang udah jago ini-itu. Sampe-sampe mau playdate aja susah bener ya jaman sekarang karena anak-anak sibuk les tiap hari (kalo Misael sibuk ikut ke kantor mama biar kenalan sama bos dan murid-murid mama, hehe). Misael dikasih les buat mengasah skill lain dalam hidupnya dan mengenal dunia lain di luar akademis di sekolah. Les bukan buat ambisi papa/mama, tapi untuk memperlengkapi Misael. Syaratnya cuma satu: kalau udah dikasih les harus berprestasi maksimal. Dan prinsip kami adalah kasih les buat hal-hal yang kami ga bisa ajarkan sendiri. Jadi ga mungkin banget tar Misael dan Sky les matematika/fisika ya 😀

Back to membanding-bandingkan. Bahkan membandingkan antar saudara kandung juga ga bagus, yang didapat cuma rasa sebel antara yang dibanding-bandingkan. Ih papa/mama lebih sayang sama kakak, bolak-balik dibilang: tuh liat kakak, ranking terus. Padahal kakaknya ngebatin: ih papa/mama ngapain sih ngebangga-banggain aku terus, biarin aja adik dengan prestasinya sendiri. Ini terbukti sama adik perempuan saya yang selama 6 tahun di SD ada di bawah bayang-bayang kakaknya setiap kali kenaikan kelas. Waktu dia berhasil pulang bawa piala sendiri, bangganya bukan main, jalan pulang sama kakaknya sambil gandengan tangan dan bawa piala (I love you, sel). Waktu SMP dia milih sekolah yang beda. Waktu SMA kami satu sekolah lagi, dan karena dia anak basket teman-teman jadi taunya: oh itu rijo kakaknya schei, bukan schei adiknya rijo. Kakak rijo sangat kuper dan pendiam sih semasa sekolah, sedangkan adik schei gaul to the max,hahaha.

Eh kok jadi ngelantur. Intinya mah, saya ga demen kalo di-drill pertanyaan-pertanyaan seputar Misael dan Sky yang ujung-ujungnya membandingkan dengan anak orang lain. Ya, Misael belum bisa baca lancar bahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia. Tapi buat kami yang pernah khawatir karena Misael mengalami speech delay, pernah langganan terapi bicara, kondisi Misael sekarang jauh lebih baik. Ya, Misael cuma les 3 macam aja, dan bukan karena liat dan ikut-ikutan orang lain, tapi karena papa-mama udah mikir matang-matang yang terbaik buat Misael.

Sekian dan terima kasih 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s