Lebaynya Media Kita

Males ya lihat TV lokal akhir-akhir ini. Berhubung saya bukan pencinta sinetron dan infotainment, akhirnya cuma nyetel TV Merah dan TV Biru untuk lihat berita terkini di Indonesia. Semua orang juga tahu, pemilik 2 stasiun TV ini politikus/pengusaha dengan harapan dan ambisi masing-masing. Jadi ‘wajar’ kalau muatan beritanya juga mengarah ke satu kutub pendapat tertentu. Yang saya lihat melelahkan dari tv berita lokal kita adalah kecenderungan melebih-lebihkan semua hal. Kalau ada satu kasus yang lagi seru nih, habis deh semua slot untuk membahas kasus itu (kasus yang saya bicarakan bukan soal korupsi dan tetek-bengeknya saja, tapi juga terorisme, kecelakaan, dan lain-lain). Berbagai pakar diundang, dimintai pendapat, tanpa ada tujuan apa sih hasil yang ingin dicapai oleh talk show beberapa jam tersebut. Kalau tujuan talk show untuk mengungkap motif dan latar belakang suatu peristiwa sih boleh-boleh saja. Tapi kalau tujuannya untuk spekulasi, talk show tidak akan ada habisnya. Ujungnya hanya debat kusir dan pemirsa dibuat semakin bingung, semakin resah. Apa yang disajikan di media, akan dibahas di kehidupan nyata, dan bisa bikin panas perdebatan-perdebatan di ruang publik (yang belum tentu di-cover oleh media, tapi bener-bener bikin orang-orang berantem).

 

Saya jadi ingin tahu, seberapa banyak porsi jurnalisme yang masih pakem/profesional sebagai background producer dari acara berita di tv berita lokal kita? Jurnalisme yang tidak ikut-ikutan gaya infotainment dengan pengulangan gambar yang sama secara terus-menerus, tidak pakai narator dengan suara setajam “silet”, dan tidak memuat wawancara narasumber yang tidak kompeten di bidang yang sedang dibahas. Saya senang sekali dengan gaya penyajian berita di “Dunia Dalam Berita-TVRI” jaman dahulu kala. Urgency berita terasa tanpa melebih-lebihkan, tanpa membuat kita yang menonton jadi lelah dan semakin terpuruk. Mungkin melencengnya tv berita lokal kita untuk tidak lebay adalah karena banyaknya slot yang harus diisi dan ada tuntutan rating. Rating sih boleh saja dikejar, itu kan tuntutan untuk stay alive in the business. Tapi mencerdaskan publik juga perlu. Berita perlu objektif, dikupas seadanya fakta, tanpa perlu banyak subjektivitas pembawa acara/narator. Berita tidak mengarah pemojokan satu pihak (apalagi pemerintah) karena ada agenda di balik kantong pemilik stasiun tv berita lokal. Media sangat wajib dan berhak mengkritik pemerintah, tapi kalau kritik disampaikan dengan cara yang tidak enak, message apa yang bisa tersampaikan? Seperti kata pepatah: The message successfully delivered depends 80% on how you deliver it, instead of the content itself. Ain’t that the truth?

 

Jadi setelah Nazaruddin, bom di Solo, jatuhnya CASA, Banggar DPR, apalagi yang mau kita simak di tv berita lokal? Setidaknya kalau ada berita baru, porsi berita lama masih ada. Yang terjadi sekarang kebanyakan berita di negeri ini: hot hot chicken s**t, jadi hot item 2-3 hari setelah itu dilupakan publik. Bukan maunya publik melupakan, tapi media yang teralu lebay dan spends too much effort di satu hal yang tidak bisa menjaga balance dari berbagai topik. Itu gaya berita infotainment bukan? Dua minggu ngebahas Saipul, satu minggu ngebahas Norman, beberapa hari ngebahas ultah anaknya BCL. Apa ada yang berani berpendapat kalau infotainment membuat publik kritis dan cerdas?

 

Saya jamin tidak ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s